RIAUPEMBARUAN.COM - Kecamatan Rimba Melintang adalah salah satu daerah penghasil padi terbesar di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Dari belasan ribu hektar lahan pertanian yang tersebar di beberapa Kecamatan, tercatat sebanyak 949 hektar berada di wilayah ini.
Dibanding Kecamatan lainya yang juga daerah sentra produksi padi seperti Bangko, Pekaitan, Kubu dan Sinaboi, Rimba Melintang memiliki keunggulan tersendiri dalam menghasilkan padi.
Adapun keungulan daerah tersebut adalah para petaninya mampu melakukan tanam dan panen padi antara 2 sampai 3 kali dalam setahun.
Hal itu dikarenakan, selain struktur tanahnya yang mendukung karena subur, para petani di wilayah ini selain kompak juga giat menanam padi yang di dukung dengan irigasi yang memadai.
Wakil Bupati (Wabup) Rokan Hilir (Rohil), H Sulaiman SS MH bahkan meminta kepada Camat Rimba Melintang untuk secara terus menerus memperhatikan produksi padi di wilayah ini.
Selain itu, dirinya juga meminta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk senantiasa memberikan edukasi agar pertanian tetap eksis di wilayah tersebut.
Beberapa bulan yang lalu, atau tepatnya pada Rabu 21 September 2022, dilakukan panen raya padi Budidaya Tanaman Sehat (BTS) di wilayah ini atau tepatnya di Kepenghuluan Mukti Jaya.
Saat itu pejabat dari Pemprof Riau seperti Asisten ll, HM Job Kurniawan, Kadis Pertanian Provinsi Riau, Hendra Irawan juga turut hadir.
"Saya meminta kepada Camat untuk bisa secara terus menerus memperhatikan produksi padi di Kecamatan Rimba Melintang dan meminta para petugas PPL senantiasa memberikan edukasi agar pertanian tetap eksis," pinta Wabup.
Ada hal unik sekaligus menjadi contoh dari kegiatan panen raya kali ini sebut Wabup, dimana padi yang ditanam dan dipanen ini tidak menggunakan pupuk kimia.
"Hal ini tentu harus di promosikan kedepannya agar pertanian di Kabupaten Rohil secara keseluruhan bisa mencontoh dan tidak menggunakan pupuk kimia," saran Wabup.
Kecamatan Rimba Melintang sendiri, memiliki lahan pertanian seluas 949 hektare dan melaksanakan panen sebanyak dua kali dalam setahun.
"Pemkab Rohil sendiri senantiasa berupaya agar indeks pertanian dipertahankan bahkan jika perlu harus lebih ditingkatkan," pesan Wabup.
Selain padi, berbagai sektor pertanian lainya seperti kedele dan jagung hibrida juga turut meningkat dan di kembangkan. Namun sebut Wabup, selama ini ada berbagai persoalan yang terjadi dalam produksi hasil pertanian masyarakat.
Dimana, hasil padi masyarakat Rohil dibeli oleh para tengkulak dari luar daerah dan kembali lagi ke Rohil dalam bentuk beras kemasan lengkap dengan merek yang bukan berasal dari Rohil.
"Permasalahan lain yaitu tentang akses menuju lahan pertanian yang masih kurang sehingga costnya tinggi dan peralatan pertanian kita juga masih kurang memadai," ungkapnya.
Walaupun demikian, dirinya menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para petani padi yang hingga saat ini masih terus eksis dalam mengelola pertanian khususnya di wilayah ini.
Sementara itu, Asisten ll Provinsi Riau, HM Job Kurniawan yang kala itu hadir sebagai perwakili Gubernur Riau menerangkan bahwa pertanian menjadi penyumbang terbesar dalam rangka menekan tingkat inflasi yang melanda secara global.
Kedepannya, lahan sawah akan di SK kan oleh Menteri menjadi lahan sawah dilindungi dengan maksud serta tujuan agar tidak beralih fungsi dari lahan pertanian ke lahan perkebunan atau tanaman palawija.
"Tingkat inflasi kita di Riau saat ini sudah menurun dengan meningkatnya produksi tanaman cabe," sebutnya.
Berdasarkan data statistik, 100 sampai 120 hektare lahan sawah merupakan lahan alih fungsi. Sehingga, upaya meningkatkan produksi padi yaitu menambah luas lahan tanam dan dukungan alsinta serta bibit berkualitas.
"Upaya kedua yakni dengan melakukan budidaya tanaman Sehat. Kemudian upaya lainnya petani akan dibuat secara berkelompok agar memudahkan pemerintah dalam mengorganisir para petani demi meningkatkan kwalitas dan kwantitas produksi," tandasnya. (Adv)