Nasional

Lentera Suku Akit di Pulau Terluar Riau

Redaksi Redaksi
Lentera Suku Akit di Pulau Terluar Riau
Istimewa

Kediaman Yap Heng Mamat salah satu dari ribuan warga Suku Akit

PERJALANAN dimulai bada Subuh, menuju sebuah pulau terluar di Riau menggunakan jalur tranportasi laut Roll On Roll Off (Roro.red) Dumai - Pulau Rupat. Setibanya, di Terminal Sri Junjungan, Kecamatan Dumai Barat antrian sudah mengular dan trip pertama penyeberangan siap diberangkatkan.

Lebih kurang menghabiskan waktu setengah jam, kapal penyeberangan Roro menyandar di terminal Tanjung Kapal tepatnya di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis. Dilanjut, jalan darat ditempuh menuju pulau terluar dengan jarak waktu lebih kurang 2 jam melintasi medan yang cukup berat untuk mencapai daerah tersebut.

Pengembangan segala lini terlihat untuk pembangunan agar merubah wujud kemajuan daerah tertinggal ini. Salah satunya, listrik menjadi faktor pendukung. Selama ini, penerangan Pulau Rupat hanya mengharapkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan waktu terbatas.

Pada Agustus 2019, PLN Wilayah Riau, Kepulauan Riau menyatakan seluruh dusun di Pulau Rupat yang secara geografis terletak di bibir Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan Negeri Jiran Malaysia itu 100 persen teraliri listrik.

Sebanyak 20 desa dan empat kelurahan di Kecamatan Rupat dan Rupat Utara telah terang benderang selama 24 jam. Kini wajah pulau di barat Indonesia itu bisa sedikit tersenyum bangga menatap luasnya Selat Malaka.

Sumber listrik di perbatasan Indonesia menjadi masalah klasik dan kini selesai secara menyeluruh tepatnya di Dusun Hutan Samak, Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Riau. Satu dusun di tengah Pulau Rupat dihuni Suku Akit yang menjadi suku mayoritas.

Yap Heng Mamat salah satu dari ribuan warga Suku Akit yang merasakan damainya teraliri listrik. Rumah panggung kayu tak bercat yang ia diami, kini lebih berwarna saat malam hari.

Suku Akit juga masih jauh dari kemajuan daerah luar, cara hidup mereka masih bertahan pada ajaran nenek moyang dengan mengandalkan alam.

Pria yang lahir setahun setelah kemerdekaan Indonesia itu tersenyum bahagia menyambut kedatangan tamu barunya.

"Ini tahun kedua kami bisa merayakan Imlek dengan memasang pernak-pernik lampion," ujar Mamat sapaan akrabnya di kampung itu.

Terlihat deretan lampu dan lampion yang menggantung di rumah kayunya menyala untuk persiapan tahun baru imlek. Bola-bola lampu itu menggantikan pelita yang selama ini menemani malam-malam keluarganya.

Namun, Mamat dan sebagian besar dari mereka juga mulai menyimpan harapan, terutama generasi penerus, agar hidup layak seperti layaknya masyarakat umumnya.

"Listrik membantu ekonomi warga disini, salah satunya mesin pembuat es batu untuk keperluan nelayan sementara permintaan es batu semakin hari semakin meningkat," jelas Mamat.

Dia percaya bahwa keberadaan listrik akan menjadi fondasi awal perubahan. Hatinya lega ketika dusunnya yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka itu, pada akhirnya tersambung listrik dan menyalakan semangat hidup.

Rupat Harta Karun yang Tersimpan Rapi

Pemprov Riau berharap pasokan energi listrik yang ada di Pulau Rupat, bisa menyokong pengembangan sektor pariwisata maritim di daerah itu.

Plt Sekda Provinsi Riau Masrul Kasmi menyampaikan bahwa pasokan listrik PLN di Pulau Rupat surplus dan dapat dioptimalkan untuk sektor pariwisata, apalagi Rupat sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata di Indonesia.

"Harapan kami sektor industri dan pariwisata di Pulau Rupat dapat dikembangkan dengan tersedianya pasokan listrik PLN ini," ujar Plt Sekda Provinsi Riau Masrul Kasmi saat menghadiri HPN 2021 di Rupat Utara.

Harta karun yang selama ini tersimpan rapi berupa hamparan pantai pasir putih, kekayaan budaya Melayu hingga Suku Akit, serta hasil tani seperti nanas madu dan ikan bisa tergali.

"Hadirnya PLN di tengah-tengah masyarakat dapat meningkatkan sektor perekonomian dan pendidikan," tuturnya.

Rintangan Pembangunan Tower 20 KV

Manager Unit Layanan Pelanggan Dumai Kota Jannatul Firdaus, S.T, M.Si mengisahkan pembangunan jaringan listrik di dusun itu dimulai sejak Desember 2018, setelah serangkaian kajian dilakukan dua bulan sebelumnya.

Sejumlah rintangan harus diselesaikan, kondisi alam berupa pasang surut air laut menjadi rintangan paling rentan. Puluhan pekerja harus bersahabat dengan alam karena izin lokasi pembangunan menara interkoneksi PLN di Pulau Rupat berada di bantaran sungai.

Beruntung, dia mengaku, hingga pemasangan selesai tidak ada gangguan berarti. Pengentasan aliran listrik di Rupat diberikan tenggat waktu selama delapan bulan, selama itu pula para pekerja mendirikan empat menara setinggi 35 meter.

Akhirnya, sistem kelistrikan tersambung menggunakan tower 20 KV sepanjang 400 meter di Hutan Samak dan 200 meter di Dusun Simpur.

"Alhamdulillah, pembangunan tower 20 KV yang dimulai pada Desember 2018 dan telah rampung di Agustus 2019," ujar Jannatul.

Pulau Rupat yang sejatinya telah tersambung aliran listrik melalui kabel bawah laut dari Kawasan Industri Dumai (KID) yang berada di Pulau Sumatera sejak 2013 itu, kini benar-benar merdeka. Selain PLN, keberhasilan itu tak lepas dari bantuan masyarakat yang dengan ringan tangan bergotong royong bersama.

Tambahnya, guna menghadapi perubahan zaman, PLN juga terus mendorong inovasi dengan mendigitalisasi semua proses bisnis dan operasi. Tranformasi PLN dilakukan untuk membantu kepuasan pelanggan dalam menikmati pelayanan.

PLN juga semakin berorientasi terhadap kepuasan pelanggan dengan membuat proses pelanggan semakin terintegrasi. Salah satunya dengan terus mengembangkan aplikasi PLN Mobile untuk memudahkan pelanggan dalam menikmati layanan PLN.

"Kekuatan untuk bertransformasi sudah ada dalam insan PLN. Berani menerima tantangan. Itulah yang akan menggerakkan transformasi PLN. Karena transformasi adalah aspirasi dari insan PLN sendiri," tutup Jannatul.***