• Home
  • Nasional
  • Presiden Indonesia ke 3 Meninggal Dunia, BJ Habibie Bapak Demokrasi Kemerdekaan Pers

Presiden Indonesia ke 3 Meninggal Dunia, BJ Habibie Bapak Demokrasi Kemerdekaan Pers

Rabu, 11 September 2019 20:48:00
BAGIKAN:
Net/Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya presiden ke-3 RI BJ Habibie. Dia mengenang BJ Habibie sebagai sosok yang membuka jalan demokrasi bagi Indonesia.

"Media massa, jurnalistik berutang budi pada Pak Habibie. Beliau yang membuka dan membuat kita semua merasakan adanya kebebasan jurnalistik seperti yang kita rasakan hari ini. Bukan saja bapak demokrasi, tetapi juga beliau orang yang paling berjasa dalam membuat dunia pers menjadi bebas seperti sekarang ini. Jadi kita berutang budi," ucap Anies kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Anies menuturkan pernah bertemu dengan BJ Habibie saat dia masih duduk di bangku SMA. Saat itu BJ Habibie masih menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek).

"Saya ketemu pertama kali dengan Pak Habibie SMA kelas 3. Saya dari Yogya, anak SMA mau wawancara Menristek di kantornya, itu pengalaman yang tak terlupakan, dan kemudian bersambung sampai ketika saya sudah bertugas di sini (gubernur) pun masih saling silaturahmi dan ngobrol dengan beliau," ucap Anies.

Anies mengaku sosok Habibie adalah sosok inspiratif. Anies menyebut Indonesia berduka atas meninggalnya BJ Habibie.

"'Nak belajar yang rajin, biar bisa seperti Pak Habibie.' Pak Habibie itu inspirasi bagi jutaan rumah tangga, jutaan anak-anak. Jadi Indonesia berduka, kita semua berduka, kami berduka. Insyaallah kami percaya Pak Habibie dimuliakan di sisi Allah dan amal jariah luar biasa panjang," ujar Anies.

Sepenggal Kisah BJ Habibie dan Ainun

BJ Habibie meninggal dunia pada usia 83 tahun di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (11/9/2019). Presiden RI ke-3 itu begitu berkesan di dunia perfilman Indonesia.

Ada beberapa film yang digarap mengambil kisah asmaranya dengan Ainun. Melanie Subono, sebagai keluarga, juga percaya kini eyangnya itu tengah melepas kangen dengan Ainun, yang meninggal dunia pada 22 Mei 2010.

Habibie beberapa kali hadir dalam pemutaran film-filmnya. Ia juga berkisah tentang pertama kali melamar Ainun dalam kesempatan itu.

"Waktu saya putuskan untuk melamar Ainun baru tiga hari lo. Saya jalan bersama Ainun di Bandung (waktu itu) terus dia tanya, 'Kamu di Jerman ngapain?'. 'Saya lagi persiapkan buat pesawat terbang. Karena saya punya cita-cita buat pesawat terbang yang memungkinkan tiap manusia Indonesia dari mana saja bisa saling bepergian,'" kisah Habibie kala itu.

"Kalau kamu sudah selesai, kamu mau ke mana?" tanya Ainun dalam ucapan yang ditirukan Habibie.

Menurut Habibie, Ainun punya pemikiran yang sama dengannya. Bila sudah sukses membuat pesawat, Habibie memutuskan mengabdi di Indonesia.

Sedangkan Ainun punya mimpi yang sama untuk bisa mengabdikan dirinya sebagai dokter.

"Saya tanya, 'Kamu mau ngapain?'" ucap Habibie kepada Ainun kala itu.

"Saya akan berusaha menjadi seorang dokter. Saya akan membantu agar manusia Indonesia, anak-anak yang lahir dan dibesarkan itu, bisa berkembang lewat gizi-gizi yang cukup dan berkembang menjadi manusia yang sehat,'" kisah Habibie lagi.

Di momen itu, Habibie kemudian melamar Ainun. Ia ingin bisa didampingi Ainun selama mewujudkan mimpi di Jerman.

"Saya tanya, 'Kamu mau ikut dengan saya ke Jerman? Saya harus menyelesaikan ini'. Begitu dimulainya (melamar)," ungkap Habibie.* (dtc)

Editor: Rezi AP

BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR