Ada 5 Tipe Insomnia, Kamu yang Mana?

Minggu, 20 Januari 2019 10:03:00
BAGIKAN:
Net - Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM - Sekitar 10 persen dari seluruh warga dunia diperkirakan mengalami kesulitan tidur atau biasa disebut insomnia. Kesulitan tidur menyebabkan sulit terlelap atau hanya bisa istirahat dalam waktu singkat, sehingga bangun terlalu awal dan mudah merasa lelah. Sayangnya hingga kini sulit menemukan pengobatan terstandar untuk insomnia.

Menurut periset dari Netherlands Institute for Neuroscience di Amsterdam, kesulitan diakibatkan beragamnya penyebab kesulitan tidur. Periset lantas menduga, insomnia sebetulnya tidak hanya punya 1 kondisi. Dengan kemungkinan tersebut, periset melakukan survei terhadap 4 ribu orang untuk mengetahui kebiasaan tidurnya. Riset yang disebut Netherlands Sleep Registry ini juga memasukkan kebiasaan lain terkait tidur.

Hasilnya, peneliti menemukan 5 tipe insomnia dalam riset yang dimuat jurnal The Lancet Psychiatry. Tipe 1 adalah insomnia dengan tingkat stres kecemasan, dan kekhawatiran tinggi. Tipe 2 memiliki tingkat stres sedang, namun kebahagiaan dan emosi lain yang menyenangkan relatif normal.

Tipe 3 juga punya tingkat stres sedang, namun level kebahagiannya lebih rendah dibanding tipe 2. Tipe 4 memiliki tingkat stres rendah, namun mengalami insomnia karena berbagai peristiwa yang mengakibatkan rasa tertekan. Tipe 5 adalah insomnia yang bukan karena stres.

Dengan hasil ini, peneliti yakin terapi insomnia harus diberikan sesuai tipenya. Tipe 2 dan 4 menunjukkan respons positif dengan pemberian obat penenang misal benzodiazepine. Tipe 2 juga merespons terapi bicara sebelum tidur yang disebut cognitive behavioral therapy. Tipe 3 tidak merespons pemberian obat penenang, sedangkan tipe 4 tidak menunjukkan reaksi usai penerapan cognitive behavioral therapy. Tipe 1 diketahui memiliki risiko terbesar sepanjang hidup mengalami depresi.

Periset saat ini melanjutkan studi untuk mengetahui detail terapi pada tiap tipe insomnia. Kemungkinan adanya tipe insomnia sempat disinggung dalam riset Tsuyoshi Kitajima dari Department of Psychiatry at Fujita Health University School of Medicine, Jepang. Namun tipe ini tak diperhatikan karena penyebab insomnia biasanya tak terkait dengan tidur itu sendiri.

Menurut Kitajima, riset akan lebih bermanfaat jika responden benar mengalami insomnia sebelum meneliti jenis terapi yang diperlukan. Jumlah responden juga harus ditambah untuk mewakili populasi yang lebih besar.

Editor: Suhadi

BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Akibat DBD, Dua Warga di Riau Meninggal Dunia

    RIAUPEMBARUAN.COM - Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat bahwa sejak Januari 2019, terdapat dua orang warga meninggal dunia akibat

  • Saran Dokter untuk Wujudkan Resolusi Hidup Sehat di 2019

    RIAUPEMBARUAN.COM - Banyak orang yang menjadikan gaya dan pola hidup sehat sebagai resolusi 2019. Bagi yang ingin mewujudka

  • Sandiaga: Sistem BPJS Kesehatan Menyusahkan Masyarakat

    Calon wakil presiden nomor urut 2 Sandiaga Uno mengkritik sistem yang dijalankan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan

  • Cara Supaya Berat Badan Enggak 'Meledak' di Akhir Tahun

    RIAUPEMBARUAN.COM - Natal dan akhir tahun 2018 sudah semakin dekat, ajakan pesta makan-makan juga mungkin sudah mulai berda

  • KOMENTAR
    situspoker situspoker