Sawit Dalam Pusaran Tantangan dan Peluang di 2019

Jumat, 12 April 2019 13:37:00
BAGIKAN:
Net-Ilustrasi

RIAUPEMBARUAN.COM - Terus meningkatnya produksi minyak sawit nasional menjadi pertandan bahwa komoditas startegis nasional ini masih tetap menguntungkan walaupun tetap dibayangi flktuasi harga minyak sawit global.

Merujuk laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) produksi minyak sawit Indonesia tahun 2018 lalu mencapai 47 juta ton (total antara minyak sawit mentah/CPO dan minyak inti sawit/PKO). Atau tercatat naik sekitar 8% dibandingkan produksi tahun 2017 lalu.

Demikian juga ekspor minyak sawit Indonesia di 2018 tercatat meningkat sekitar 12% menjadi sebanyak 34 juta ton. Dimana kata Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, penggunaan minyak sawit di dalam negeri juga tercatat meningkat dimana untuk kebutuhan pangan dan oleokimia sejumlah 9,5 juta ton, sementara untuk biodiesl sekitar 3,8 juta ton.

“Sehingga saat ini konsumsi minyak sawit nasional sekitar 13,3 juta ton, menjadikan Indonesia sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia,” kata Joko dalam acara Seminar “Tantangan dan Peluang Agribisnis 2019” yang dihadiri InfoSAWIT, Kamis (11/4/2019) di Jakarta.

Namun demikian dengan produksi yang tinggi tidak akan menguntungkan bila tidak ada peluang, sebab itu Joko menjabarkan bahwa komoditas kelapa sawit memiliki banyak faktor dalam pengembangannya salah satunya masalah harga yang masih kerap berfluktuatif. Padahal menurut prediksi sampai 2025 produksi kelapa sawit nasional akan terus meningkat.

Kata Joko, kekuatan yang dimiliki kelapa sawit nasional semisal lahan dan iklim yang sesuai, tersedianya tenaga kerja, penggunaan produk kelapa sawit yang luas, serta dukungan pemerintah -walaupun menurut Joko dukungan pemerintah masih kurang maksimal-, namun tetap patut untuk disyukuri dan terus diajaga, sebab peluang pasar minyak sawit global masih terbuka lebar, apalagi kini sumber energi minyak nabati telah menjadi tren dunia, belum lagi kebutuhan pasar biodiesel sawit domestik.

Sebab itu dibutuhkan peran semua pihak untuk bisa melakukan peningkatan daya saing dengan memperkuat seluruh kelemahan industri minyak sawit nasional, termasuk tantangan yang dihadapi saat ini semisal masih adanya kampanye anti-sawit, proteksionisme di negara tertentu. “Harga yang masih berfluktuatif serta regulasi yang belum pro bisnis,” katanya.

Guna memenangkan pasar minyak sawit global, kata Joko ada tiga hal yang perlu dilakukan yakni, pertama melakukan peningkatan produktifitas dan daya saing industri, kedua, melakukan pengembangan produk dan pasar, serta ketiga perang memenangkan pasar minyak sawit global. “Kalau mau menang kita harus naik produksinya, tingkatkan priduktifitasnya, perkuat daya saing dan melakukan diversifikasi produk serta pasar, selain melakukan kampanye positif,” tandas Joko.

Editor: Iskandar M

BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Berharap Green Diesel Sawit Bisa Komersial di April 2019

    RIAUPEMBARUAN.COM - Bulan Desember 2018 lalu, pada minggu kedua, PT Pertamina melakukan ujicoba pembuatan produk Greengasol

  • Sawit dan Tudingan Negatif Uni Eropa

    RIAUPEMBARUAN.COM - Dorongan penggunaan energi baru terbarukan telah dilakukan semenjak satu dasawarsa silam, bahkan kala i

  • Eropa Berlakukan Aturan Sawit Mulai Mei 2019

    RIAUPEMBARUAN.COM - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, kampanye negatif kelapa sawit Indo

  • Lahan Plasma Sawit Seluas 32.996 Ha di Riau, Resmi Diremajakan

    RIAUPEMBARUAN.COM - Peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat di Riau mulai diterapkan. Sebelumnya presiden Joko Widodo tel

  • KOMENTAR
    situspoker situspoker