Info Sawit

Harga Minyak Anjlok, Harga CPO Ikut Melorot 2,3%

admin admin
Harga Minyak Anjlok, Harga CPO Ikut Melorot 2,3%
Net/Ilustrasi
RIAUPEMBARUAN.COM - Harga komoditas minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatif (BMD), kembali tertekan pada perdagangan awal pekan ini. Sentimen yang turut mempengaruhi harga CPO adalah kembali turunnya harga minyak.
 
Pada Senin (23/3/2020), harga CPO kontrak pengiriman 3 Juni 2020, anjlok 53 ringgit ke level RM 2.235/ton. Jika dibanding dengan harga penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga CPO terkoreksi 2,32%.
 
Pergerakan harga CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya. Tak hanya itu, pergerakan harga minyak mentah juga turut menjadi sentimen yang mempengaruhi harga CPO.
 
Walau tidak bersaing di pasar yang sama, CPO merupakan salah satu komoditas yang menjadi bahan baku biodiesel. Biodiesel sendiri merupakan produk substitusi minyak. Sehingga ketika harga minyak anjlok tajam, hal ini juga menjadi salah satu sentimen pemberat bagi harga CPO.
 
Hari ini harga minyak mentah kontrak anjlok 3%. Harga minyak semakin dekati level US$ 20/barel. Anjloknya harga minyak dipicu oleh dua faktor, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.
 
Dari sisi permintaan, wabah COVID-19 yang kini menjangkiti lebih dari 325 ribu orang di lebih dari 80% negara di dunia adalah ancaman terbesar bagi permintaan minyak. Perkiraan Goldman Sachs dan Vitol, permintaan minyak anjlok 8-10 juta barel per hari (bpd).
 
Di tengah penurunan permintaan minyak, pasar justru berpotensi kebanjiran pasokan akibat perang harga antara Arab Saudi dengan Rusia serta rencana Arab Saudi yang akan menaikkan produksi minyaknya setelah kesepakatan OPEC+ berakhir pada 31 Maret ini.
 
Ketika permintaan turun dan pasokan berlebih, harga minyak ambrol seperti sekarang ini. Sentimen inilah yang membuat harga CPO juga ikut terkoreksi hari ini. Koreksi harga CPO hari ini, seolah membuat euforia minggu lalu akibat bursa saham yang menguat serta hubungan India dan Malaysia yang kian mesra jadi sirna.*
 
Editor: Suhadi